mau coba kan lihat ja blog ni!
INILAH.COM, Jakarta - Seperti grup musik lainnya, Slank tak lepas pula dari fenomena gonta-ganti personel. Tapi, Slank tak goyah. Mereka tetap berkibar. Dan, dengan warna musik khasnya, mereka terus melaju. Menembus ruang dan waktu.
Dengan formasi baru (formasi 14) dan di bawah naungan Bunda Iffet, kini Slank telah melahirkan sembilan album. Setelah Lagi Sedih muncul Tujuh (1998), dan lalu Mata Hati Reformasi (1999).
Lima album pertama mereka adalah Suit Suit Hey Hey (1990), Kampungan (1991), Slank 3 (1993), Generasi Biru (1995), dan Minoritas (1996).
Album-album yang diproduksi sebagian besar oleh Virgo Ramayana Record dan Slank Records itu dilengkapi The Best Slank 1-5, A Mild Live (1999) dan VCD album 99+09. Seluruh album Slank laku di atas 200 ribu. Album Tujuh mencatat penjualan tertinggi, 600 ribu keping.
Predikat supergrup memang pantas mereka terima. Selain angka penjualan yang fantastis, Slank juga memiliki jumlah penggemar yang amat luas. Jumlah Slankers, penggemar fanatik Slank, mencapai jutaan orang. Mereka tersebar di 20 kota, bahkan ke beberapa negara.
Fans yang memegang kartu anggota saja ada sekitar 20 ribu orang. Malah, menurut Bens Leo, seorang pengamat musik, Slankers fanatik bisa mencapai 50 ribu.
"Slank kelak bakal jadi LSM dengan jumlah anggota yang besar," kata Bimbim.
Komunitas Potlot juga melahirkan penyanyi dan musisi yang sukses. Mereka antara lain Oppie Andaresta, Anang, Imanez, Nita Tilana, Welly, Ecky Lamoh, dan tentu Pay, Indra Q, dan Bongky yang banyak mempromosikan grup baru
setelah cabut dari Slank usai album ke-5, Minoritas. Mereka kini mendirikan BIP, yang warna musiknya masih kental dengan warna Slank.
Boedi Soesatio bercerita, pertemuannya dengan Slank bermula ketika kepincut pada demo lagu yang dibawa oleh anak sahabatnya, Yudho (suami Titi Qadarsih) pada 1989.
Bagi pembuat logo dan sampul kaset itu, lagu yang dibawa oleh Indra Qadarsih itu ibarat mutiara yang belum digosok.
"Mereka membawa pembaruan di blantika musik rock Indonesia lewat lirik yang apa adanya," tutur Boedi.
Apalagi, Boedi menilai, saat itu pasar kaset sedang jenuh. Pop cengeng juga sudah jenuh. Inilah momentum. Kebetulan pembuat sampul album Nike Ardila itu juga tak asing dengan Pay, yang pernah kerja bareng.
Strategi pun digarap. Boedi dan anggota Slank - Bimbim, Kaka, Pay, Bongky, dan Indra - menyatukan pendapat. "Kami sepakat untuk tidak sepakat."
Mereka beradu argumen setelah lagu selesai digarap. Salah satu hasilnya adalah lirik lagu yang dinilai agak jorok agar diganti, seperti lagu Kupu-kupu Malamku menjadi Maafkan. Setiap personel Slank dinilai memiliki musikalitas yang tinggi.
"Soal menyanyi, fals sedikit boleh-boleh saja daripada harus mematuhi patron yang tepat," katanya.
Bimbim kuat karena memiliki touch Rolling Stones. "Indra, Bongky, dan Pay meski nggak nge-Stones, punya peran yang tak kalah kuat. Indra memberi renda, begitu pula Bongky. Pay yang memberi kancingnya," katanya.
Inti dari kekuatan Slank, menurut Boedi, adalah pada cara ungkap lirik dan tema yang mereka tawarkan sangat akrab dengan lingkungan sehari-hari. Hit-hit seperti Maafkan, Mawar Merah, Makan Nggak Makan Asal Kumpul, Orkes Sakit Hati, Bang Bang Tut, Nagih, Naik-naik ke Puncak Gunung, Tong Kosong, Siapa yang Salah, Balikin, bertutur tentang kehidupan sehari-hari yang apa adanya.
"Mereka bisa menjadi corong dan mewakili anak muda. Mereka bakal menjadi perwakilan unek-unek. Slank bakal menjadi gaya hidup," ujar Boedi.
Dengan sejumlah kekuatan yang dimiliki Slank, slogan Slank adalah anak muda yang slenge'an, tapi punya sikap pun ditawarkan. Logo pun dibuat maskulin, yakni kupu-kupu besi dengan desain warna biru sebagai ikon.
Karena diprediksi bahwa Slank bakal menjadi gaya hidup, mereka menyebarkan angket, meluncurkan stiker, pin, kaos, rantai, sekaligus untuk memelihara fans. Inilah yang akhirnya melahirkan Pulau Biru. Wadah manajemen Slank, yang sekarang dipegang oleh Bunda Iffet Sidharta.
Slank kemudian terbukti menjadi gaya hidup. Para Slankers meniru habis penampilan Slank. Kaos ketat yang ngatung. Dompet di saku kanan belakang yang terikat rantai ke pinggang. Kalung dengan liontin logo Slank berbentuk kupu-kupu.
Itulah atribut khas kaum Slankers. Sebagian mereka ada pula yang mengenakan sapu tangan leher.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar